
Cap Go Meh di Singkawang bukan sekadar festival. Ia adalah perpaduan mistik, budaya, dan kehangatan lokal yang tak bisa dijelaskan hanya lewat gambar. Setelah bertahun-tahun mendengar cerita dari teman dan membaca ulasan online, akhirnya pada 2024 saya berkesempatan menyaksikannya sendiri — dan pengalaman Cap Go Meh ini benar-benar mengubah cara saya memandang tradisi Tionghoa Dayak di Kalimantan Barat.
Berikut saya bagikan cerita Cap Go Meh, semoga bisa jadi inspirasi buat kamu yang berencana datang di tahun 2026 nanti!
Dari Pontianak ke Singkawang: Perjalanan Dimulai
Saya memulai perjalanan dari Pontianak naik mobil travel bersama tiga teman. Berangkat pagi sekitar jam 7, kami sampai di Singkawang sekitar jam 11 siang. Di sepanjang jalan, mulai terlihat suasana Imlek: lampion bergantungan, spanduk ucapan selamat, hingga aroma kue keranjang di pasar-pasar kecil.
Kami menginap di penginapan sederhana dekat Jalan Sejahtera — lokasi utama parade. Suasana kota ini unik: kecil, tapi hidup. Perpaduan antara budaya Tionghoa, Melayu, dan Dayak terasa kuat di arsitektur dan keramahan warganya.
Hari-H: Parade Tatung & Atmosfer yang Mendebarkan
Pagi Cap Go Meh 2024, jam 6:30 kami sudah di jalan. Ribuan orang berkumpul, dari wisatawan lokal, rombongan media asing, hingga warga keturunan Tionghoa yang datang dari luar negeri.
Tiba-tiba, suasana menjadi hening saat rombongan Tatung muncul. Tatung adalah medium yang kerasukan roh leluhur — mereka berjalan di tengah kerumunan dengan wajah tenang, tubuh ditusuk benda tajam, sebagian bahkan menginjak pedang. Namun tidak ada darah, tidak ada luka. Saya tertegun.
“Melihat langsung Tatung membuat bulu kuduk merinding. Bukan karena takut, tapi karena takjub. Ini bukan sekadar pertunjukan, ini adalah warisan budaya yang hidup.”
Momen Tak Terlupakan: Foto, Kuliner, dan Hangatnya Warga Lokal
Di sela parade, saya banyak mengambil foto — salah satu momen terbaik adalah ketika matahari pagi menyinari wajah seorang Tatung muda dengan pedang melintang di pipinya. Dramatis dan sakral.
Setelah parade, kami mencicipi kuliner khas Cap Go Meh: choi pan hangat, bakcang legit, dan bubur gunting manis. Warung kaki lima penuh, tapi pelayanannya cepat. Bahkan ada warga yang menawarkan tempat duduk hanya karena melihat saya berdiri kebingungan.
“Yang membuat Cap Go Meh Singkawang istimewa bukan hanya budayanya, tapi juga orang-orangnya.”
Tips dari Saya untuk Kamu yang Ingin ke Cap Go Meh 2026
- Booking hotel jauh hari. Saya hampir tidak dapat penginapan karena telat pesan.
- Gunakan pakaian nyaman, karena parade berlangsung pagi hingga siang, dan cuaca bisa panas.
- Hargai budaya. Jangan ganggu atau bercanda dengan Tatung. Ini upacara sakral.
- Bawa uang tunai, terutama pecahan kecil untuk jajan atau beli oleh-oleh.
- Jangan lupa bawa kamera atau HP dengan memori besar — kamu akan ingin merekam semuanya!
Kenapa Kamu Harus Datang ke Cap Go Meh Singkawang?
- Festival Tatung terbesar di dunia
- Perpaduan budaya Tionghoa, Dayak, dan Melayu yang hidup berdampingan
- Kuliner Imlek terbaik di Kalimantan Barat
- Suasana kota kecil yang hangat dan bersahabat
- Cocok untuk wisata budaya, fotografi, hingga solo traveling


Tinggalkan Balasan