
Cap Go Meh adalah puncak dari perayaan Tahun Baru Imlek yang jatuh pada hari ke-15 kalender lunar. Meski berasal dari budaya Tionghoa, tradisi Cap Go Meh di Indonesia telah berkembang menjadi warisan budaya yang unik dan sarat akulturasi. Tak hanya dirayakan oleh etnis Tionghoa, Cap Go Meh juga menjadi pesta rakyat di berbagai daerah, seperti Singkawang, Pontianak, Bogor, dan lain-lain.
Berikut ini adalah 10 tradisi Cap Go Meh yang masih dilestarikan di Indonesia hingga hari ini.
1. Pawai Tatung
Tradisi paling ikonik di Cap Go Meh Singkawang. Tatung adalah orang yang dirasuki roh leluhur atau dewa pelindung dan melakukan atraksi ekstrem, seperti menusuk pipi dengan besi tajam atau berjalan di atas senjata.
Tujuannya: Menolak bala dan membersihkan kota dari energi negatif.
2. Pawai Barongsai dan Liong
Tarian singa (barongsai) dan naga (liong) selalu hadir dalam perayaan Cap Go Meh di banyak kota.
Maknanya: Mengusir roh jahat dan mendatangkan keberuntungan.
3. Festival Lentera
Cap Go Meh juga dikenal sebagai Festival Lentera di Tiongkok. Di beberapa kota seperti Medan dan Semarang, warga menyalakan lampion sebagai simbol harapan dan terang kehidupan.
Lentera ini sering dilepas ke langit atau air.
4. Melempar Jeruk (Tradisi Cari Jodoh)
Tradisi melempar jeruk ke sungai dilakukan oleh wanita lajang yang berharap mendapat jodoh. Biasanya diikuti oleh pria yang “menangkap” jeruk tersebut.
Populer di komunitas Tionghoa di Sumatera dan Jakarta.
5. Doa dan Persembahan kepada Leluhur
Sama seperti saat Imlek, Cap Go Meh juga menjadi waktu untuk mendoakan leluhur dan memberikan persembahan di altar keluarga.
Melambangkan penghormatan kepada generasi terdahulu.
6. Kuliner Lontong Cap Go Meh
Tradisi makan lontong Cap Go Meh merupakan bentuk akulturasi budaya Tionghoa dan Jawa.
Hidangan ini terdiri dari lontong, opor ayam, sambal goreng ati, dan telur pindang.
7. Pementasan Seni Budaya Lokal
Beberapa daerah menggabungkan budaya Tionghoa dan lokal, seperti tari daerah, wayang potehi, gamelan, hingga reog.
Ini mencerminkan kerukunan antar budaya di Indonesia.
8. Pemasangan Hiasan Merah dan Lampion
Rumah, toko, dan jalanan utama dihias dengan warna merah dan lampion gantung menjelang Cap Go Meh.
Warna merah melambangkan keberuntungan dan kebahagiaan.
9. Pemberian Sembako dan Angpao
Tradisi berbagi rezeki juga dilakukan saat Cap Go Meh. Banyak klenteng atau komunitas Tionghoa yang membagikan sembako dan angpao kepada warga sekitar.
Ini menunjukkan nilai sosial dan kepedulian terhadap sesama.
10. Prosesi Pembersihan Jalan dan Klenteng
Menjelang puncak perayaan, masyarakat melakukan pembersihan jalan utama dan klenteng sebagai bentuk penghormatan dan kesiapan menyambut energi baru.
Juga dianggap sebagai ritual membuang sial dari tahun sebelumnya.
Penutup
Tradisi Cap Go Meh di Indonesia menunjukkan bahwa warisan budaya bukan sekadar perayaan, tetapi juga jembatan antara masa lalu dan masa kini. Dari atraksi tatung di Singkawang hingga lontong Cap Go Meh di Jawa, semuanya mencerminkan kekayaan budaya Indonesia yang harmonis dan penuh makna.
Melestarikan tradisi Cap Go Meh berarti merawat keberagaman dan menghargai warisan leluhur, sekaligus memperkuat identitas budaya bangsa.
0

Tinggalkan Balasan